Jika seseorang melempar pertanyaan kepada saya beberapa tahun lalu tentang di mana saya akan berada hari ini, jawaban saya pasti tidak jauh dari aroma tanah basah, cangkul yang aus, dan teriknya matahari di tengah sawah. Nama saya Acep. Dulu, hidup saya sesederhana—sekaligus sesulit— menjadi seor